Senin, 28 Januari 2013

sahabat terbaik

kalian merupakan sahabat terbaik bagiku..
susah dan senang bersama kalian..
semoga kita berkumpul di kehidupan nan abadi, akhirat, syurga.
"Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan wajah dan kegembiraan hati. Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka dengan syurga dan pakaian sutera. Di dalamnya neraka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya teriknya matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan." (Qs. Al-Insaan: 11-13)

Minggu, 27 Januari 2013

Bapak Tua


Seringkali kita melihat masalah hanya dari kacamata pribadi. Ada seorang bapak tua bersama empat anaknya masih kecil-kecil. Mereka naik kereta ekonomi dari Jatinegara menuju Semarang. Di dalam kereta, anak-anak itu sangat ribut sehingga mengganggu penumpang yang lain. Berlarian kesana kemari, teriak-teriak tawa mewarnai keceriaan mereka. Penumpang yang lain banyak yang merasa terganggu dengan tawa anak-anak itu. Sang Bapak Tua sepertinya tidak mau tahu. Seorang ibu memberanikan diri untuk menegur Bapak Tua.

“Pak, maaf pak, apakah anak-anak itu anak Bapak?”

Tanpa menjawab, Bapak Tua itu pelan-pelan mengangkat kepala dan melihat kearah ibu yang menegurnya. “Ada apa bu??” tanya Bapak Tua.

“Itu pak, anak bapak, mereka berisik dan mengganggu penumpang yang lain. Tolong disuruh diam pak. Sebagai orang tua, harusnya bapak bisa menjaga anak-anaknya donk. Kami merasa terganggu.”

“Oh, maaf bu, saya tidak bisa” jawab Bapak Tua.

“Kenapa tidak bisa? Kan itu anak bapak?”

“Saya tidak tega.”

“Kenapa tidak tega?”

“Tiga hari yang lalu, mereka baru saja kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan pesawat. Sejak kecelakaan itu, mereka tidak pernah berhenti menangis dan baru hari ini saya bisa melihat mereka tertawa. Saya tidak tega memberhentikan tawanya. Jika ibu tega, saya persilahkan” jawab Bapak Tua mengakhiri percakapan.

Sang ibu kemudian kembali ke tempat duduknya dan tidak bisa berkata apa-apa lagi sambil meneteskan air matanya. Kini, marahnya berubah menjadi sayang, bencinya jadi simpati. Ia sangat senang melihat anak yatim piatu itu bisa tertawa lepas.

Yakinlah, pada saat kita mau membuka mata hati dan pendengaran pastilah hidup ini lebih mudah untuk dipahami. Kebencian jadi kasih saying, dendam jadi persahabatan. Tidak ada yang salah dalam kehidupan ini, yang salah adalah pada saat kita tidak berusaha mau mengerti tentang kehidupan. Sungguh, Allah menginginkan kebaikan bagimu, kehidupan di dunia dan di akhirat. Karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

*Ust. Bagus Pranowo

Ketika Aku Memilih

Dalam setiap pilihan hidup, seorang mukmin beristikharah pada Allah. Tetapi shalat istikharah itu hanyalah satu tahapan saja, sebagian dari tanda kepasrahannya kepada apa yang dipilihkan Allah bagi kebaikannya. Untuk dunia, agama, dan akhiratnya. Istikharah yang sesungguhnya dimulai jauh sebelum itu; rasa dari taqwa, menjaga kesucian ikhtiar, dan kepekaan dalam menjaga hubungan baik dengan Allah.

Ketika segala sebelumnya dijalani dengan apa yang diatur-Nya, maka istikharah adalah saat bertanya. Pertama tentang pantaskah kita dijawab oleh-Nya. Yang kedua, seperti apa jawaban itu. Yang ketiga, beranikah kita untuk menerima jawaban itu. Apa adanya. Karena itulah sejujur-jujur jawaban. Di situlah letak furqaan, karena kepekaan khas orang bertaqwa.

Karena soalnya bukanlah diberi atau tidak diberi. Soalnya, bukan diberi dia atau diberi yang lain. Urusannya adalah tentang bagaimana Allah memberi. Apakah diulungkan lembut dengan cinta, ataukan dilempar ke muka penuh murka. Bisa saja yang diberikan sama, tapi rasa dan dampaknya berbeda. Dan bisa saja yang diberikan pada kita berbedadari apa yang diharap hati, tapi rasanya jauh melampaui. Di situlah yang kita namakan barakah.

Di jalan cinta para pejuang, ada taqwa yang menjaminkan barakah untuk kita.

*Jalan Cinta Para Pejuang, hal 125

Sabtu, 26 Januari 2013

Kematian Hati*


Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya
agar dapat segera pergi.Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.

Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu.Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa.Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim malnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal,lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang.

Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat?” Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci)berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan.”

Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?” Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua?”

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya”. Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri. 

*Ust. Rahmat Abdullah

Cinta Hingga ke Surga*


Melihat fenomena para pengantin baru yang saling melontarkan kata mesra di jejaring sosial, saya hanya bisa tersenyum. Ah, rasanya romantisme pasangan baru itu adalah hal yang wajar dan amat lumrah. Tapi melihat romantisme para “pengantin lama”, rasanya itu luar biasa.Mungkin beberapa pekan ini orang-orang sedang disibukkan dengan boomingnya film Habibie-Ainun. Film yang mengangkat kisah cinta dan perjalanan keluarga pak Habibie dan istrinya ibu Ainun. Sepasang sosok jenius yang mengabdikan diri untuk negeri padahal di luar negeri sana sudah terjanjikan kehidupan yang jauh lebih baik. Sosok seorang istri yang dengan sabar senantiasa mendukung dan menemani perjuangan suami dalam kondisi apapun, hingga walaupun kini sudah tiada, sosok bu Ainun bagi pak Habibie tak pernah terganti.

Pun kisah bu Dian dan pak Eko. Mungkin kisah ini juga sudah banyak yang tahu. Bu Dian, seorang lulusan universitas ternama, cantik, cerdas, namun suatu hari ia divonis terkena lupus, padahal saat itu ia dan suami yang sudah cukup lama berumah tangga belum juga diberi keturunan. Tentu bukan sakit yang ringan, hingga bu Dian harus dioperasi berkali-kali bahkan sempat kehilangan penglihatannya.  Namun, dengan segenap cinta dan ketulusan, pak Eko terus merawat dan menemani sang istri. Dengan sakit yang menahun, bu Dian akhirnya mempersilakan pak Eko untuk kembali menikah. Namun inilah jawaban dari seorang pak Eko, “Saat kau sehat pun aku takkan tega menduakanmu. Apalagi saat kau sakit seperti ini, rasanya aku lebih tak tega lagi jika harus disuruh untuk menambah rasa sakitmu.” Di kesempatan lain, bahkan pak Eko memberi bu Dian sebuah buku yang ia tulis sendiri. Dalam buku itu tertulis sebuah doa, “Allah jadikan aku mencintainya bukan karena kecantikannya. Bukan pula karena kecerdasannya. Dan bukan karena keturunannya. Dan bahkan bukan karena dia sakit. Melainkan karena Engkau cinta padaku. Aamiin.”

Tak jauh dari pelupuk mata, saya pun menyaksikan cinta dua orang yang sangat saya sayangi, Ibu dan Bapak. Dengan sosok keduanya yang hampir tak pernah saling melontarkan kata mesra, tak pernah terlihat sisi romantis keduanya, namun kala ibu sakit dan hanya bisa tergolek lemas, bapak lah yang dengan sabar dan telaten memenuhi semua kebutuhannya, menjaganya saat tidur, menyuapi makan dan minumnya, bahkan membersihkan bekas buang airnya. Hingga maut pun akhirnya memisahkan keduanya di penghujung tahun ini.

Namun dari semua kisah yang ada, tentunya kisah Rasulullah SAW lah yang menjadi inspirasi utama kita semua. Kisah cinta sejatinya bersama Khadijah RA. Bagi Rasulullah, Khadijah tak ada duanya, beliau senantiasa dimuliakan saat hidup dan sesudah wafat. Ia lah wanita pertama yang mengimaninya saat yang lain mengingkari, dan hanya darinyalah Rasulullah dianugerahi putra-putri. Tidaklah Rasulullah menghadapi kerasnya gangguan dan penolakan yang membuatnya sedih kecuali Allah SWT melapangkan hatinya melalui Khadijah RA. Sehingga tak heran, walaupun Khadijah sudah tiada, Rasulullah masih terus menyebut kebaikan-kebaikannya, menjaga silaturahim dengan kerabat dan sahabatnya, sampai-sampai mengundang kecemburuan ‘Aisyah RA. Dari Aisyah RA, “Saya tidak pernah cemburu kepada seorang wanita seperti kecemburuanku kepada Khadijah, karena Rasulullah sangat sering menyebut-nyebut namanya…” (HR. Bukhari-Muslim). 
Begitulah, Khadijah adalah istri Nabi di dunia dan di surga.

Kita tentunya berharap bahwa cinta yang kita bangun pun tak hanya sampai di dunia tapi bisa berlabuh di akhirat. Namun, berlabuh di akhirat saja tak cukup tapi harus berlabuh di surga. Karena, adakah sepasang manusia yang cintanya akan berlabuh di neraka? Jawabannya ada, bahkan diabadikan Allah di dalam Al-Qur’an.“Celakalah kedua belah tangan Abu Lahab dan celakalah dia. Harta bendanya dan apa yang ia usahakan tidak berguna bagi dirinya. Ia akan masuk api yang menyala- nyala. (Demikian juga) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”(QS. Al-Lahab: 1-5)Abu Lahab dan istrinya. Itulah contoh pasangan sejati yang Allah janjikan akan bersatu lagi di akhirat, namun bukan di surga, melainkan di neraka. Na’udzubillah. Maka, kita senantiasa memohon kepada Allah agar cinta kita kepada suami, cinta kita kepada istri adalah cinta yang membawa keberkahan dan keridhaan Allah SWT.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat, kemudian ia membangunkan istrinya untuk mengerjakan. Jika istrinya tidak mau, maka ia memercikkan air pada wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat, kemudian ia membangunkan suaminya untuk mengerjakan. Jika suaminya tidak mau, maka ia memercikkan air pada wajahnya. Jika keduanya bangun lalu mengerjakan shalat dua rakaat maka keduanya dicatat sebagai golongan laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah.” (Hadits riwayat Abu Dawud dan Nasa’i)

Alangkah indahnya Rasulullah menggambarkan cinta yang dibangun dalam bingkai ketaatan kepada Sang Pemilik Alam Semesta. Cinta yang produktif menghasilkan amal dan kerja-kerja nyata dalam dakwah. Hingga kelak, cinta-cinta itu kembali bersemi di surga-Nya.Wallahu a’lam bishshawaab.*dakwatuna

Sabtu, 22 Desember 2012

maka, tersenyumlah


"Senyum yang hangat adalah bahasa universal sebuah kebaikan" 
- William Arthur Ward

Dear sahabat yang murah senyum,
Tersenyumlah, setiap kali sahabat membuka mata di pagi hari.
Tersenyumlah untuk hari baru, harapan baru dan berkah baru.
Meskipun sahabat sedang punya masalah, sahabat selalu punya sejuta alasan untuk tersenyum. Karena jika sahabat hitung, berkah Allah pasti lebih banyak daripada masalah yang datang kepada sahabat.

Sahabat, tersenyumlah, karena kemana pun sahabat pergi, atau apapun bahasa yang diucapkan orang, setiap orang di semua budaya dan negara ini mengerti dan merespon untuk sebuah bahasa universal:  senyum... :-)

Senyum menciptakan koneksi dengan orang yang asing sekali pun, yang tidak berbicara dalam bahasa kita. Senyum juga menular. Begitu sahabat tersenyum pada orang lain, ia akan tersenyum balik kepada sahabat.


Sahabat, tersenyumlah, karena senyum sahabat akan merangsang munculnya
hormon-hormon seratonin, dopamine dan hormon-hormon lainnya yang memberikan rasa senang dan bahagia kepada sahabat.
Senyum sahabat juga dapat memperkebal sistem imun tubuh, mengurangi stress, menurunkan tekanan darah dan meningkatkan citra positif sahabat.

Sahabat, tersenyumlah, senyum manis sahabat yang akan dikenang orang lain dan menghibur orang-orang yang sahabat kasihi.

Sahabat tersenyumlah, karena senyum itu pun mudah dan gratis :-)

-anneAhira

sahabat, bersyukurlah

"Bangunlah sikap syukur dan syukurilah atas segala sesuatu yang terjadi pada diri Anda, melangkah ke depan untuk menerima sesuatu yang lebih besar dan lebih baik dari situasi Anda sekarang"
- Brian Tracy

Dear sahabat,

Jika sahabat sedang sulit tidur, ingatlah pada orang-orang tunawisma yang  tidak tidur di tempat tidur empuk dan tak berselimut.

Jika sahabat terjebak dalam kemacetan, jangan kesal. Masih banyak orang yang terpaksa menarik gerobak sampah yang berat dengan berjalan kaki menuju tempat pembuangan sampah.

Jika sahabat sedang mengalami hari yang mengesalkan di kantor, pikirkanlah
orang-orang di luar sana yang masih belum mendapatkan pekerjaan.

Jika sahabat sedang sedih dan kecewa karena hubungan cinta sahabat sedang memburuk, pikirkanlah mengenai orang yang tidak tahu seperti apa rasanya mencintai dan dicintai.

Jika sahabat mengeluh tidak punya sepatu baru, pikirkanlah orang-orang yang tidak memiliki kaki.

Jika sahabat menemukan uban saat sahabat bercermin, pikirkanlah pasien kanker yang  dikemoterapi  yang berharap rambutnya tetap utuh.

Jika sahabat mengeluh negeri ini tidak banyak memberi untuk sahabat, pikirkanlah negara lain yang saat ini sedang dilanda peperangan dan kelaparan.

Jika mobil sahabat mogok dan sahabat harus berjalan berkilo-kilo untuk mencari bantuan, pikirkanlah orang cacat yang ingin sekali berjalan seperti sahabat.

Bersyukurlah sahabat atas apapun situasi yang sahabat alami dan berikan makna syukur untuk segala situasi yang sahabat hadapi. 

-anneAhira

Jumat, 14 Desember 2012

cinta bukan sekedar

cinta bukan sekedar soal memaafkan..
cinta bukan sekedar soal menerima apa adanya..
cinta adalah harga diri..
cinta adalah rasionalitas sempurna..
jika kau memahami cinta adalah perasaan irrasional,
sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan,
maka cepat atau lambat,
luka itu akan kembali menganga..
kau dengan mudah membenarkan apapun yang terjadi di hati,
tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan bahwa itu boleh jadi
karna kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut..
tidak lebih, tidak kurang?

--TereLiye 'sepotong hati yang baru'

Rabu, 12 Desember 2012

sudah dibayar dengan segelas susu

Cerita ini adalah kisah nyata yang diambil sekitar 20-30 tahun yang lalu di Amerika. Disana ada seorang Jack kecil, seorang anak yang menjual kue hasil buatan ibunya untuk biaya rumah sakit ayahnya. Suatu hari, Jack kecil amat sangat lapar. Dikeranjangnya masih ada beberapa kue untuk dijual. Ia tahu ia lapar, tapi ia juga tahu ayahnya membutuhkan uang. Lalu ia mengetuk satu pintu. Keluarlah seorang perempuan kecil yang seusia dirinya sekitar 7 tahun. Anak perempuan ini bernama Laura.

Lalu Laura kecil bertanya kepada Jack,
"untuk apa kamu kesini?"

"saya menjual kue," jawab Jack kecil.

"apa kamu tidak lapar?" tanya Laura lagi.

"ya, saya amat sangat lapar". jawab Jack.

Lalu Laura masuk kedalam rumahnya dan membawa satu gelas susu. Ia berkata, "saya tidak punya uang atau makanan. Dan saya juga tidak mau kue itu. Tapi saya punya segelas susu. Karena kamu lapar, maka ambil saja ini".

Susu itu akhirnya diminum Jack. Itu adalah susu yang paling nikmat yang pernah ia minum semasa hidupnya.

Kita maju ke 20 tahun berikutnya..
Laura sudah tumbuh dewasa sekitar 27 tahun. Laura mengidap kanker rahim yang parah. Ia sudah seharusnya operasi tapi keluarganya bukan keluarga yang berada. Ia pergi dari satu rumah sakit lainnya tapi mereka semua menolak mengoperasi Laura jika tidak ada uang sampai akhirnya dia menemukan satu rumah sakit terbesar di Amerika.

Di rumah sakit ini ia berkonsultasi kepada para dokter dan tetap, harus operasi. Ia akhirnya tidur diranjang, dibuka perutnya, diambil rahimnya dan dibuang kankernya lalu dijahit lagi perutnya. Laura sehat kembali namun ia takut akan biaya yang harus dibayarnya. Akhirnya ia memberanikan diri ke kasir untuk minta bon nya.

Sang kasir bertanya,
"anda Laura?"

"ya". Jawa Laura.

"dari kamar 21D?" tanya kasir tersebut kembali.

"ya". jawa Laura kembali.

"ini adalah bon untuk biaya operasi kamu." kata kasir sambil memberikan bon.

Laura teramat takut untuk membuka bon tersebut. Perlahan-laha saking takutnya ia akhirnya membuka bon tersebut. Dia tidak menemukan angka, namun menemukan tulisan yang teramat kecil. Isinya adalah sebagai berikut...

"sudah dibayar dengan segelas susu"

Salam, Dr. Jack



~~~

Sahabat, 
Teruslah berbuat kebaikan..
Jangan pelit untuk berbuat kebaikan..
Sekecil apapun kebaikan, dia akan kembali..
Dan sekecil apapun keburukan, diapun akan kembali..
Tetapi Allah akan melipatgandakan kebaikan..
Dan Allah akan menghapus keburukan dengan kebaikan.. 

"hal jazaaul ikhsaan illal ikhsaan"

"Bukankah kebaikan akan dibalas dengan kebaikan?" (Al-Qur'an)

Minggu, 02 Desember 2012

jangan jatuh cinta tapi bangun cinta


kawan, suatu ketika mungkin kita pernah jatuh hati, memendam rasa atau suka pada seseorang yang kita kagumi
namun, banyak sekali yang salah mengekspresikan cinta hingga ia terpedaya dengan cintanya
sahabatku, marilah kita alihkan energi cinta kita bukan untuk melihat bukan hanya untuk memikirkan bahwa dirinyalah yang terbaik bagi kita, namun untuk mempersiapkan, sehingga jika suatu saat kelak Allah telah berikan kepada kita satu yang tepat untuk diri kita, kita akan komitmen dengan dirinya
sahabatku, para pecinta sejati bukanlah ia yang mengumbar-umbar pesona cintanya, namun para pecinta adalah ia yang siap komitmen memberikan cintanya hanya untuk yang halal bagi dirinya
saudaraku, mari kita bangun cinta hingga cinta kekal sampai surga..

http://nasyidterpilih.blogspot.com/2011/07/maidany-jangan-jatuh-cinta-tapi-bangun.html

Sabtu, 01 Desember 2012

terjebak oleh sesuatu yang indah

"Mengapa kau menyuruh orang lain (mengajarkan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?" (Al-Baqarah:44)

Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosaku selama ini..
Cinta itu fitrah. Cinta itu harus ada. Jika cinta itu tidak pernah kita rasakan, bagaimana kita bisa merasakan cinta Nya?
Aku malu, sungguh malu.. mengajak mereka untuk tidak menyalahgunakan sebuah cinta, namun aku sendiri terjebak oleh cinta. Terjebak oleh sesuatu yang indah. Cinta dunia. Cinta kepada makhluk Mu.
Cinta itu indah, ketika kita merasakan cinta itu sesuai dengan tempatnya. Namun, apabila cinta itu sudah disalahgunakan, kecintaan itu bukan karna-Nya, maka itu adalah palsu. Tinggalkan semua cinta itu selain cinta kepada-Nya. Cinta... Tak ada habisnya memang ketika aku, pun mereka membahas tentang cinta.
Aku jatuh cinta. Jatuh cinta. Ya, aku jatuh cinta. Cinta yang salah. Dan tak ingin mengulanginya kembali. Tak ingin merasakan cinta itu. Tak ingin mengenal cinta, selain cinta-Nya.
Semoga Allah menerima taubatku, taubatmu.

#sepercikcahaya

Minggu, 03 Juni 2012

.: senandung ukhuwah :.

sahabat, tibalah masanya..
bersua pasti ada berpisah..
bila nanti kita jauh berpisah,
jadikan robithoh pengikatnya,
jadikan doa ekspresi rindu,
semoga kita bersua disyurga..

disini, dikampus yang waktu dulu hanya segelintir saja yang mengetahui keberadaannya,
kampus dimana sama sekali tak terpikirkan olehku,
kampus yang saat itu aku mengeledeknya dengan kampus 'sebuah ruko',
kampus yang waktu itu aku malas untuk memikirkan,

namun, sekarang sudah tidak seperti yang aku pikirkan 'saat itu',
dan, aku sama sekali tidak menyesal berada di kampus yang saat itu adalah sebuah ruko,
sama sekali tidak menyesal..
karna, disinilah, aku menemukan sesuatu yang belum pernah aku temukan sebelumnya..
sesuatu yang bisa membuat aku menangis sedih, menangis bahagia, susah bersama, senang bersama, dan hal-hal lainnya yang mungkin tidak aku sebutkan semuanya, karna memang sungguh terlalu banyak sesuatu yang aku dapatkan disini, di SEBI..

hati ini sungguh sangat bahagia ketika aku menemukan sosok-sosok yang luar biasa, hanya disini aku menemukannya..

yaa, sahabat, gapailah terus cita-cita kalian..
cita-cita terhadap dakwah,
cita-cita terhadap orang tua,
cita-cita terhadap sahabatmu,
cita-cita terhadap......
terhadap apapun yang engaku inginkan terhadap cita-cita itu..

sahabat, walaupun aku sudah tidak lagi berada dibarisan kalian,
barisan dimana harus memperjuangkan apapun yang harus diperjuangkan,
namun, aku selalu berada dibelakangmu, wahai sahabatku..
apapun yang kalian rasakan dengan apa yang kalian perjuangkan,
aku pun ikut merasakannya,
karna kita satu tubuh,
"Perumpamaan orang yang beriman, saling menyayangi, saling mengasihi bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota menderita sakit maka yang lain ikut merasakan hingga tidak bisa tidur dan merasa demam" (HR. Bukhori & Muslim)

sahabat, semoga Allah selalu meridhoi apa yang kalian lakukan,
hari ini,
esok,
lusa,
dan selamanya..

"disaat kalian terbang jauh melambung tinggi dengan sayap, maka kami adalah orang pertama yang akan melepas kalian, namun, disaat sayap-sayap kalian terluka, maka kami pula lah orang yang pertama akan mengobati sayap kalian yang luka..selamat berjuang sahabat.. kalian merupakan sosok-sosok luar biasa disana, dan panutan untuk semuanya"

sepercikcahaya

Selasa, 24 Januari 2012

.: bila hati sebening embun :.

Rasa takjub kerap menjalari hati setiap kulihat air bening itu berkialauan di dedaunan atau rerumputan saat matahari mulai menyapa pagi. Biasanya segera kuhampiri benda-benda dimana bulir memukau itu berada. Kutatap lama atau terkadang muncul isengku, menepuknya. Bersorak riang hati bila si bulir bening bernama embun itu kutemukan menempel di daun talas. Rasa heran sering melingkupi lipatan-lipatan otakku saat melihat daun talas yang tetap terlihat kering walau disinggahi sang embun. Ku gerak-gerakkan daun talas itu, dan sang embun mengikuti gerakan itu dengan lincah.

Selarik memori di masa kecil kala kulihat embun, ternyata tak berubah hingga kini. Sang embun selalu berhasil memukau mataku. Entahlah, keberadaannya diantara dedaunan, bunga maupun rerumputan selalu mengalirkan kesejukan di mataku dan kilau beningnya yang memantulkan cahaya sebagaimana cermin, menghadirkan rasa takjub memenuhi rongga hati.

Saudaraku, adakah engkau pun mengalami hal yang sama dengan yang kurasakan kala memandang embun? Kalau ternyat engkau belum pernah memperhatikannya, cobalah sesekali waktu. Engkau bisa menemukan wajah sang embun di pagi hari atau bisa saja dengan browsing foto-fotonya, dan rasakan sensasinya.

Bila kita perhatikan bagaimana embun terbentuk, kurasa ada sesuatu yang menarik untuk kita pelajari darinya. Embun biasanya terbentuk dengan baik pada malam hari yang cerah dan tenang. Menurut teorinya, embun terbentuk ketika udara yang berada di dekat permukaan tanah menjadi dingin mendekati titik dimana udara tidak dapat lagi menahan semua uao air. Kelebihan uap air itu kemudian berubah menjadi embun di atas benda-benda di dekat tanah. Embun juga terbentuk dengan baik ketika kelembaban tinggi.

Coba kita perhatikan lagi, jika kita ibarat kehidupan embun itu pada manusia, kita bisa menemukan orang-orang yang menyejukan hati kita biasanya bisa dipastikan orang tersebut memiliki hati sebening embun. Dia dapat kita pastikan adalah orang-orang yang sanggup mengendalikan hatinya untuk selalu dalam "suhu yang dingin" alias tenang dalam menghadapi segala hal. Dia akan selalu berusaha mengendalikan suhu hatinya itu lebih dingin dari keadaan yang berkecamuk di sekitarnya sehingga kita bisa merasakan hatinya bening bagai embun.

Kebeningan hatinya ibarat cermin yang memantulkan cahayaNya. Tutur kata dan tingkah laku orang-orang demikian biasanya tak beranjak dari lingkar kebaikan yang tak dapat terbendung lagi pada pribadinya sendiri sehingga orang-orang disekitarnya akan merasakan kesejukan dari kebeningan embun hatinya. Seperti dikatakan Imam Ghozali, bahwa hati manusia ibarat cermin, sedangkan petunjuk Tuhan bagaijkan nur atau cahaya. Dengan demikian jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkapi cahaya petunujuk Illahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya.

Orang-orang berhati sebening embun, mereka akan mampu melihat dunia dengan terang benderang karena dianugrahi bashirah (pandangan hati) yang selalu menuntunnya berbuat kebajikan. Dan bashirah akan memunculkan sifat seperti keberanian, murah hati, penolong, dapat menahan nafsu, sabar, penyantun, konsisten, suka memaafkan, gembira, senang bekerja sama dengan orang lain, tenang, dan sifat-sifat mulia serta terhormat lainnya.

Menjadi pribadi berhati sebening embun bukanlah suatu hal yang mudah. Diperlukan riyadhah/ latihan yang terus menerus untuk menempa diri dan mengendalikan suasana hati ketika berhadapan dengan godaan nafsu. Tetap yakinlah saudaraku, bila tempaan demi tempaan itu membuat hati kita menjadi sebening embun yang dirasakan sejuknya oleh sekitar, maka bisa jadi akhir hidup kita bisa seindah muslimah sejati.

Minggu, 22 Januari 2012

pertengkaran kecil

sedih, bila ku ingat pertengkaran itu..
membuat jarak-jarak kita..
resah tiada menentu..
hilang canda tawamu..
hati ini aku ingin begini..
hati ingin begini..


sobat, rangkaian masa yang tlah terlewat..
buat batinku menangis.
mungkin karna egoku..
mungkin karna egomu..
maaf aku buat begini..
maaf aku begini..


bila ingat kembali janji persahabatan kita..
tak'an mau berpisah karna ini..
pertengkaran kecil kemari, cukup jadi lembaran hikmah..
karna aku ingin tetap sahabatmu..


*edcoustic

Senin, 09 Januari 2012

.: keluarga besar SSP 2011-2012 :.

setelah aku melihat hasil dari gambar ini, ternyata bagus juga yaa Depit (seseorang yang telah mengambil gambar ini)..
yaa..dengan senangnya aku "memperlihatkan" foto ini.. apa kata mereka yang sudah melihat foto ini,, "ihhh, seru banged sii kalian, kompak euy" (ini versi saya, namun pada intinya mereka mengatakan seperti itu).. apapun yang terjadi pada "kita", kita harus tetep kompak yaa teman.. buktikan kepada mereka kalo kita memang benar-benar kompak.. AllohuAkbar!!


ciiiiiissssss ;)
foto ini diambil saat kami berada di Villa Mekar Raya, Cisarua Bogor, tempat diadakannya kaderisasi SEBI yang kedua, setelah PROPEKA, yaitu ACCES-I. dengan banyaknya waktu yang luang untuk kita, yaaa.. kita gunakan waktu luang nan panjang itu untuk berbincang-bincang hangat tentang organisasi kita, SEBI SOLIDARITY FOR PALESTINE (SSP).. hehehe ^_^..


suatu saat, SSP akan lebih jaya dibandingkan dengan ormawa lain.. saya yakin itu..

Rabu, 28 Desember 2011

cinta adalah

aku adalah malam yang tersedu dalam kelam
yang membasah tanpa ada yang memandang
yang menyinari dengan rembulan
tapi tiada kesan ketika pagi menjelang

aku berharap dengan cinta
berbicara kepada cinta
meminta untuk cinta
dan hanya karena cinta


bohong jika cinta itu menyakitkan
dusta, jika cinta itu menyusahkan

cinta adalah memberi
tapi aku belum memiliki apa-apa untuk diberi
mungkin itulah jadinya segala pinta, dan harap kata tiada makna
sehingga tiada tertanam dan tumbuh indah dipandang

cinta tak akan berkata bahwa ia tengah terluka
karena cinta hanyalah mencinta, bukan berkeluh kata
tapi cinta adalah bahasa hati, bahasa mata, bahasa tubuh
yang dengan cinta juga seharusnya dapat tersentuh

cinta bukanlah lelah letih di dapur
di sumur,
dan di kasur

cinta adalah ketaatan terhadap cinta
seperti indahnya Kalamullah yang tersurat dalam kitab-Nya,
"... Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku ..."

Ya Rabb..
limpahkanlah kepada kami sebuah cinta yang mentaati cinta
cinta yang berkata dengan cinta
cinta yang menuju cinta
cinta yang menebarkan maslahat bagi cinta
sebaik-baik cinta seperti dalam curahan kalam-Nya

amin

Kamis, 01 Desember 2011

.: karena cinta :.

cintalah yang membuat seorang ibu, saat mengahadapi detik-detik kelahiran anaknya berani dengan tegar berkata pada dokter, "Dokter, andaikan nanti engkau dihadapkan pada pilihan antara menyelamatkan aku atau anakku, maka.. selamatkanlah anakku!"
cintalah yang membuat seorang ibu, saat makan, juka makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, "Cepatlah makan, ibutidak lapar."
juga saat makan, Ia selalu menyisihkan ikan daging untuk anaknya dan berkata , "Ibu tidak suka daging, makanlah nak.."
cintalah yang membuat seorang ibu, saat tengah malam saat dia sedang menjaga anaknya sakit, Ia berkata, "Istirahatlah nak, ibu masih belum ngantuk.."
cintalah yang membuat seorang ibu, saat anak sudah tamat sekolah, bekerja, mengirimkan uang untuk ibu, Ia berkata, "Simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang."
cintalah yang membuat seorang ibu, saat anaknya sudah sukses, menjemput ibunya untuk tingga di rumah besar, Ia lantas berkata, "Rumah tua kita sangat nyaman, ibu sudah terbiasa tinggal disana."
cintalah yang membuat seorang ibu, saat menjelang tua, ibu sakit keras, anaknya menangis, tetap ibu masih bisa tersenyum sambil berkata, "Jangan menangis, ibu tidak apa apa."
tidak peduli seberapa kaya kita, seberapa dewasanya kita, ibu slalu menganggap kita anak kecilnya, mengkahawatirkan diri kita tapi pernah membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya.
sesungguhnya, dia sedang mengajarkan kepada kita (anak-anaknya) bahwa dalam melakukan segala sesuatu.. "Lakukanlah dengan CINTA!!" maka sesederhana apapun perbuatab akan sangat bernilai.

I Love U Mom..

(sang mutiara inspirator)

Senin, 24 Oktober 2011

.: semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :.

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku takk pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orang tua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. 
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/